Pengumpan:
Tulisan
Komentar

GENGSI

Assalamualaikum..

Tiba-tiba teringat sepenggal kalimat dalam ceramah Alm. K.H. Zainuddin MZ;  ”walaupun itu keluar dari dubur ayam, tp telur, ambil ! tp  meskipun kluar dari dubur manusia, tapi kotoran, tinggalkan!”

Hmmm…dalem ..banget. Ini ada kaitannya dengan sifat manusia yg seringkali sibuk memikirkan “apa kata orang”. Bukannya gak penting memiliki pertimbangan seperti ini. Namun jgn kelewatan juga, sehingga sampai melupakan “apa kata Allah” atau bahasa lainnya “Allah ridho gak ya..?” Ini yg dikatakan gengsi. Disadari atau tidak, sering kita (kita= ini termasuk gw juga kali ya? hiks… :’( *jedot2in kepala di keyboard*) berbuat sesuatu atas dasar bukan karena Allah.  Merasa tua (padahal cuma beda 2 taon), gengsi minta maaf sama yang muda. Merasa kaya (padahal entah apa ukurannya) gengsi kalau beli barang yg gak bermerk…, udh sibuk bangga2in tas yg beli-nya di Eropa, eh gak taunya merk di dalemnya “made in Indonesia”….halah —-> memble dehhhh…! , Anak2 muda (emg udh se-tua apa gw?) merasa udah kece banget klu sering nongkrong & clubbing, plus minum minuman beralkohol, pikirnya klu jadi remaja mesjid mah..kuno, kampungan —–> hahayyy…..norak loe, teler aja bangga…, arak itu minuman setan, lha klo lu minum itu trus setan mo minum apa bro…????!!! selera kuliner, klu gak suka dengan menu western food or japanesse food or junk food ato apa lah…, dianggap udik ——-> woooyyy…., yg namanya selera itu gak bisa dipaksaain, lha klo emg bagi dia lebih enak gudeg drpd Sushi…ya biarin aja (halah, gak penting banget). Merasa jadi Boss, klu jatah makan harus kebagian duluan —> yaaahhh…monggo daaah..! Nah, kaum ibu2 nih yg paling lucu, jemput anak ke sekolah doang….tapi pada berlomba2 bergaya plus perhiasan blink2….—>permisi…, mau manggung bu??? Orang tua larang anak perawannya menikah dengan pemuda sholeh, krn bukan berasal dr keturunan org kaya…meskipun si pemuda sudah punya pekerjaan yg mapan —> hari gene……msh mikirin kasta?? capeeee deee……., jaman majapahit udh lewat, coy…..!!!!!!!

Coba dipikir, klu semua masalah gengsi ini diikutin, bisa stress…!!! tuh kan, kita sendiri berarti yg “cari penyakit”.  Dan yg lebih penting lagi, rugi banget yah…, terlalu banyak lahan untuk menabung pahala yg kita lewatkan hanya demi jaga gengsi, namun justru menambah sibuk Malaikat Atid nyatet dosa2 kita. Astaghfirullahalazim.

Rasanya, gak bakal ada deh yg ketawa klu kita memiliki kebesaran jiwa dengan lebih dulu mengakui kesalahan & minta maaf kpd siapapun yg kita merasa bersalah terhadapnya. Justru syithan yg akan tertawa riang bila kita menahan diri tuk berbuat baik. Kalau emg barang gak bermerek sekalipun punya kualitas bagus, knp harus gengsi liatin ke org2 kita pake itu. Dan kegiatan jemput anak ke sekolah itu juga gak sama dengan kondangan kan? mungkin saja justru dengan style kandas & perhiasan blink2 itu bisa memancing kejahatan yg bisa merugikan diri kita atau bahkan anak kita sendiri. Trus, klu para org tua yg memang anak perawannya udh ketemu calon yang dia suka dan sholeh pula, udah mapan juga…so what.., mending dinikahin deh…daripada mereka terlanjur berbuat dosa. Jangan sampai kita menyesal di kemuadian hari hanya karena hal2 sepele yg sama sekali gak ada manfaatnya buat diri & keluarga kita. Ingat, apapun masalahnya, pertimbangan utamanya adalah: “Allah ridho atau tidak” (lagi2 minjem kata2 pak Kiyai).

Kita sendiri terkadang yg mempersulit hidup ini, padahal Allah sudah berikan banyak petunjuk dan rizki. Kerendahan hati kita mungkin menjadi salah satu penentu bisa atau tidaknya kita meraih semua titipan Allah.

InshaAllah, tulisan ini tidak bermaksud menggurui. Disamping untuk mengingatkan diri gw sendiri, juga bermaksud untuk mengingatkan para pembaca yg mungkin sedang lupa akan hal ini. (kalo semua pada inget sih…, alhamdulillah).  Sebenarnya banyak lagi yg bisa ditulis berkaitan dgn topik ini. Tp sayang…, pinggang gw udh pegel…, jd gak konsen. Sementara sekian dulu yaa. Mohon maaf bila banyak kekurangan dalam penulisan.

ci…luk…baaaaaa…….

assalamualaikum, sahabat..!
hayyo…pasti lagi nebak klu tulisan ini akan bercerita tentang Raziq (anakku) kan? No…no…no..! tulisan ini diberi judul “ci luk baa” karena gw udh lama ninggalin blog ini. jadilah ini blog tak bertuan. hehehe….
Tp sekarang tuh lg rindu…pengen nulis. (walaupun belum pasti mau nulis ttg apa). hihihi…
Ok. see you in the next article, yah…
Wassalam.

Pernahkah atau adakah diantara kita yang pernah berpikir tentang: apa sih hebatnya Kartini, sampai tanggal lahirnya diperingati sebagai hari besar nasional? Sebenarnya apa yang sudah beliau lakukan pada waktu itu? Bukankah hanya menulis buku “Habis gelap terbitlah terang”? Beliau tidak bertarung secara fisik & angkat senjata melawan para penjajah. Kenapa bukan tanggal lahirnya Cut Nyak Dien saja yang diperingati sebagai hari besar nasional? Dan masih banyak lagi pahlawan pahlawan wanita dari daerah lain yang lebih hebat perjuangannya untuk bangsa & negara ini.

 Menggelikan. Saat seseorang bercerita kepadaku tentang pemikiran atau ide yang seperti ini, aku tertawa geli. Aku tidak tau harus menilai bagaimana jika ada yang berpikir seperti ini, apakah ia kritis, lucu, ataupun skeptis?? Tapi yang jelas bagiku, lebih baik kita berpikir dari sudut pandang yang positif saja. Bentuk perjuangan itu tidak hanya dengan angkat senjata, namun goresan tinta pun kadang bisa lebih tajam dari goresan bambu runcing. Mungkin itulah yang dilakukan oleh Kartini pada waktu itu. Tulisan & buah pikirannya telah mampu mendobrak peradaban & kultur sosial yang kolot. Persembahan terbesarnya untuk kaum perempuan di zaman itu dan generasi sekarang telah banyak membawa perubahan besar pada bangsa. Perempuan tidak lagi hanya bergelut seputar sumur-dapur-dan kasur saja. Namun perempuan pun diberi kesempatan dan kebebasan untuk menuntut ilmu, agar kelak dalam menjalankan perannya sebagi istri dan ibu dari anak2nya, ia bisa menghasilkan generasi penerus yang cerdas, berakhlak, dan bermoral. Itulah cita cita Kartini. Karena, bukankah rumah merupakan Madrasah pertama bagi anak-anak kita?

Emansipasi berasal dari kata emancipation yang berarti kebebasan, kemerdekaan. Jaman sekarang implementasi dari emansipasi diterapkan dalam berbagai bentuk oleh para perempuan masa kini. Sebenarnya pemberian kebebasan pada kaum perempuan untuk menjadi insan yang berilmu, adalah bentuk pengakuan bahwa perempuan itu begitu berharga dan punya peran penting. Hal ini bukan hanya baru dimulai setelah Kartini menulis buku, namun sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW. Islam adalah agama yang sangat menghargai, melindungi, dan selalu ingin mengangkat derajat kaum perempuan. Kebebasan untuk kaum perempuan itu ada namun batasannya pun juga ada. Kodrat tetaplah kodrat, perempuan tetaplah perempuan. Selamanya tidak akan sama dengan laki-laki. Secara logika, kalau dari segi fisik saja kita berbeda dengan kaum adam, bagaimana mungkin kita bisa menyuarakan bahwa: laki-laki & perempuan harus ada persamaan hak? Karena dari perbedaan fisik ini akan menimbulkan perbedaan stamina, kemampuan fisik, intelegensi, daya pikir, emosi, dan sebagainya.

 Zaman sekarang, banyak orang berpikir bahwa ketika kita membicarakan perbedaan2 antara kaum lelaki dan perempuan, berarti kita menghancurkan hak-hak perempuan, dan mendiskreditkan perempuan. Padahal perbedaan antara kaum lelaki & perempuan adalah konsekuensi dari tabiat dan fitrah yang telah Allah ciptakan kepada keduanya, disamping berbagai kekhususan yang Allah berikan pada kaum perempuan, baik berupa bentuk fisik, serta tugas-tugas rumah tangga dan pendidikan anak yang dibebankan kepadanya dalam ruang lingkup keluarga. Semua itu bukanlah penghancur hak-hak perempuan, bukan pula pelecehan terhadap peran dan eksistensi perempuan. Sebenarnya, semua tugas itu adalah tugas maha penting dan mulia yang tidak mampu dilakukan kaum lelaki yang sehebat apapun. Kita (perempuan) dan kaum lelaki sama-sama memiliki hak dan kewajiban sendiri-sendiri.

Kutipan dari salah satu Firman Allah:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNYA. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu……” (An-Nisaa’ :32)

Sebelum menikah aku bekerja. Setelah menikah, resign dari perusahaan karena harus ikut suami pindah ke luar kota. Awalnya semua berjalan biasa saja, tak ada rasa canggung, justru aku merasa seperti seorang karyawan yang sedang cuti besar. Relax sekali. Namun waktu yang terus berjalan, membuat aku akhirnya jenuh juga. Tiba-tiba muncul keinginan yang begitu besar untuk kembali jadi wanita karier, dimana salah satu yang menjadi alasan dari keinginan ini adalah munculnya rasa minder karena aku hanya ibu rumah tangga dan bukan mereka (wanita karier). Rajin mencari bursa kerja baik di koran dan kadang internet. Tapi perasaan ini belum aku bicarakan dengan suami. Pada dasarnya suami bukanlah typical orang yang suka mengekang. Tidak ada larangan darinya jika aku ingin bekerja. Namun entah kenapa, jauh di lubuk hatiku selain ada rasa yang menggebu-gebu ingin kerja di luar rumah, ada juga rasa sayang untuk meninggalkan rumah & aktivitas rutin rumah tangga yang slama ini aku jalani; memasak, merapikan rumah, mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut suami pulang ke rumah, kesenangan bisa bebas ber-internet dari rumah, menulis seperti sekarang ini, dan lain sebagainya. Dalam kebingungan ini aku pun menangis, dan akhirnya membicarakan juga hal ini dengan suami. Suami tidak marah, justru membiarkan aku untuk memilih (ingin tetap kerja di luar rumah atau tetap seperti sekarang), namun beliau hanya memberikan pandangan, bahwa setiap keputusan & langkah yang diambil itu ada konsekuensinya. Dan mengingatkan aku agar bertanya kembali pada diri sendiri tentang apa alasan sesungguhnya aku ingin bekerja. Kami belum kekurangan uang (Alhamdulillah), walau aku hanya di rumah, bukan berarti aku ketinggalan akan perkembangan dunia luar. Masih ada televisi, buku-buku, suami juga memfasilitasi aku dengan internet. Tinggal bagaimana aku memanfaatkannya. Dengan segala kebijaksanaannya dia menghiburku dari rasa minder sebagai ibu rumah tangga. Salah satu kalimat sederhana darinya: “tahukah veli, betapa berartinya segelas teh hangat yang menyambut abang setiap pulang dari kantor..?!”. Aku tak tahu harus bilang apa. Aku tersanjung. Ternyata walau aku bukan wanita karier, aku masih berharga. Dalam hati aku berkata pada Tuhan, “Ya Allah jika memang menurutmu tempat yang terbaik & lebih mulia bagiku memang di rumah ini, maka jagalah aku agar tetap disini.”

Tidak bebaskah aku? Tidak emansipatif kah aku? Terserah orang mau menilai bagaimana, yang penting aku menghargai & mensyukuri apa yang aku miliki sekarang, aku tidak minder lagi, dan aku tahu…, dimanapun dan jadi apapun aku, aku tetap bisa berbuat banyak jika mau. Selama dasar dari setiap yang kita lakukan adalah untuk mencari ridho-NYA, maka InsyaAllah jalanpun akan terbuka. Amin.

Waktu telah mengantar zaman untuk terus berubah, begitu juga pola pikir manusia. Adanya kedua jenis gender ini, sebenarnya merupakan bentuk ke-maha adilan Allah. Dalam rumah tangga yang di dalamnya kita berpasangan, prinsipnya adalah kerjasama, bukan unjuk kebolehan. Kita punya peran masing-masing yang berbeda, namun sama pentingnya. Sungguh sulit dimengerti orang-orang yang menyerukan persamaan mutlak antara kedua jenis gender ini. Bukankah semata-mata ini seruan yang tidak ada dasar hukumnya, baik dari dasar fitrah maupun realitas yang dialami umat manusia?

Wahai kaum-ku tercinta, silahkan memilih ingin jadi apa & bagaimana. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak mampu melakukan semua hal. Oleh karena itulah Allah dengan segala kebijaksanaanNYA telah menggariskan hak-hak & kewajiban kita sesuai kodrat. Berusaha memenuhi hak kewajiban tersebut dengan sungguh-sungguh saja, belum tentu kita berhasil, apalagi kalau melakukan dengan sembarangan. Emansipasi memang kebebasan, namun ibaratnya kereta api, walau ia bebas mau pergi kemana saja, tetap harus berjalan diatas rel. Sedikit saja tergelincir, kecelakaan yang berakibat maut akan terjadi. Semua hancur! Islam tidak pernah melarang kita untuk bekerja. Namun bekerja yang bagaimana? Itulah yang harus sama-sama kita gali jawabannya. Bukankah pedoman hidup telah Allah berikan..?!

Jangan takut para lelaki tidak menghargai kita. Mulailah penghargaan itu kita berikan pada diri sendiri dulu. Dengan kita menghargai eksistensi kita, maka dengan sengaja atau tidak akan banyak hal-hal berarti yang bisa kita lakukan. Mereka (lelaki) dengan terlihat menghargai atau tidak, sesungguhnya jauh di lubuk hati sangat menghargai & mengagumi kita (perempuan), karena bagaimanapun mereka juga lahir dari rahim seorang perempuan. Dan sebaliknya sebagai suami, kita pun wajib untuk menghormati & patuh padanya selama tidak bertentangan dengan aturan Allah.

Akhir kata, kita tak bisa memilih bagaimana dan kapan kita akan mati. Kita hanya bisa memutuskan bagaimana kita akan hidup.

 Rujukan:

  1. Al Qur’an

  2. Majalah NIKAH vol.6

LIFE

Life is like a wheel, turning round and round.

Sometimes you are on the top, and  sometimes you are at the bottom.

Life is not eternal, we won’t live forever.

We musn’t be proud of anything, because eventually everything will goes back to The Maker.

When the day comes to face Him, we won’t bring anything with us, just like when we first come into this world.

EATING STEAK MANNER

Assalamualaikum ya akhi ya ukhti. Salam salam hai saudaraku, smoga Allah merahmatimu, salam salam wahai smua, semoga hidup jadi bahagia. Bila hati terasa sedih bila jiwa terasa hampa mungkin kita sudahlah lupa, berzikir tenangkan jiwa……

(ya…, mungkin banyak rekans yang gak asing dengan kata2 ini, karena ini adalah cuplikan lirik lagu “Assalamualaikum” dari Opick.)

Sebelumnya aku ingin mengucapkan “Slamat Tahun Baru 1 Muharam 1430 Hijriah (maaf agak terlambat). Sesuai lirik diatas, semoga di tahun baru ini kita semakin mempererat tali silaturahmi, senantiasa dirahmati Allah, serta semakin memperbanyak zikir kepadaNYA. Amin.

Beberapa waktu lalu ada hal menggelikan yang tiba-tiba melintas di pikiran ini. Tentang tata cara makan steak. Yah….steak..! Semua pasti tau donk, dan mungkin ada rekans yang sampai menggemari makanan ini. Enak memang! Ada yang disajikan secara biasa, ada pula yang penyajiannya dengan hot plate. Tapi, bagaimanapun “piring” nya, instrumen wajibnya tetaplah pisau & garpu. Sebenarnya bukan hanya ketika makan steak, mungkin ada beberapa menu makanan lainnya yang instrumen wajibnya pisau dan garpu. Pizza misalnya, walaupun kadang kalau kita makan pizza sendiri d rumah, gayanya to the point saja, gak pakai acara pisau-garpu segala. Tapi kalau di resto, jaim dikit boleh donk… Heheehe…

Aku baru ingat, dulu waktu makan pizza bareng sodara sodara, aku makannya pakai pisau & garpu, dan dengan santainya kupegang pisau di tangan kiri dan garpu di tangan kanan. Karena aku berpikir, memasukkan makanan ke mulut kan harus pakai tangan kanan, makanya garpu kupegang di kanan. Ternyata apa yang kupikir waktu itu dianggap salah secara umum, karena salah seorang saudara tertawa tawa kecil melihat gaya makanku yang terbalik itu, sebab seharusnya pisau lah yang di kanan & garpu yang di kiri. Konon sih begitu
manner nya yang berlaku secara umum. Setelah itu, aku ikuti aturan tersebut. Setiap kali makan pizza atau steak, aku sudah melakukannya dengan tata cara “benar” tadi (ada alasannya kenapa kata-kata benar kuberi tanda kutip, karena itu bacalah tulisan ini sampai habis).

Setelah beberapa tahun kemudian, suatu ketika Mama pulang dari menghadiri Majelis Taqlim. Beliau bercerita tentang ceramah yang disampaikan ustazd di mesjid tadi. Salah satunya adalah tentang tata cara makan & minum yang diajarkan oleh junjungan kita Rasulullah SAW. Rasul mengajarkan bahwa setiap makanan yang masuk ke mulut itu, haruslah dengan tangan kanan, karena orang yang makan dengan tangan kiri adalah temannya syaitan (kecuali jika tangan kanan kita betul betul dalam keadaan darurat). Termasuk minum. Andai tangan kanan kita misalnya terlalu kotor untuk memegang gelas dan terpaksa harus dengan tangan kiri, maka caranya adalah pegang gelas dengan tangan kiri, lalu taruh punggung tangan kanan kita di bawah gelas, seolah-olah tangan kananlah yang menuntun tangan kiri untuk menuntun kita minum. Rekans pasti pernah melihat orang minum dengan cara seperti ini.

Lalu bagaimana nih kalau kasusnya ketika kita makan steak?? Jika kita pegang garpu di tangan kiri, kita akan dianggap salah bahkan tidak sopan oleh etika umum. Benarkah????? Atau justru etika umum yang slama ini kita pakailah yang sebetulnya tidak sopan?

Cerita berikutnya; konon para mahasiswa yang kuliah di Teknik Industri punya suatu mata kuliah yang namanya “Analisa Perancangan Kerja”. Dalam mata kuliah ini salah satu topik bahasannya adalah tentang ‘peta tangan kiri & tangan kanan’. Dimana intinya yaitu bagaimana dalam melakukan suatu pekerjaan tangan kiri & tangan kanan kita bisa sama-sama berfungsi optimal. Jadi tidak salah satunya saja yang dominan, tapi keduanya.

Mari kita coba menggabungkan dua ide diatas (nasehat Rasulullah & konsep tangan kiri dan tangan kanan-nya orang teknik industri). Manner yang kita jalankan selama ini, mungkin alasannya adalah karena si garpu ini posisi mutlaknya adalah di tangan kiri, buktinya kalau kita makan pakai sendok, kan garpu di kiri. Atau mungkin juga supaya lebih memudahkan kita untuk memotong makanan maka pisau dipegang tangan kanan. Coba bayangkan sulitnya kita memotong makanan dengan tangan kiri…?!! Jujur aku sendiri sudah pernah mencoba, namun karena tidak terbiasa jadi…ya…sangat sulit. Tapi ingat, sulit bukan berarti tidak mungkin kan? Seandainya kita berhasil, jadilah tangan kiri kita juga bisa berdaya guna positif, dan sunnah rasul pun terpenuhi. Atau kalau ternyata terlalu sulit, mungkin bisa saja pisau tetap kita pegang di kanan & garpu di kiri, namun hanya pada saat kita memotong-motong makanan, setelah itu letakkan pisau, lalu pegang garpu di kanan, dan makanlah. Sangat rumit kan? Memang. Karena itu buatlah pilihan, mau rumit atau mau memberdayakan tangan kiri?! Up to You..!

Kita tidak tahu dari mana sebenarnya manner / tata cara makan seperti ini. Memang kelihatannya sangat sopan, tapi maaf…benarkah ini masih akan lazim kita terapkan apabila kita mempunyai identitas sebagai seorang muslim? Ataukah selama ini kita hanya ikut-ikutan? Maklum moral masyarakat kita sudah banyak yang
western minded. Mungkin sudah waktunya kita kesampingkan rasa malu yang dikarenakan takut dianggap tidak sopan oleh orang banyak karena gaya makan yang terbalik. Ridho sejuta umat tak akan menambah pahala kalau tidak diiringi dengan ridho Allah. Ingat rekans:

sesuatu yang umum itu belum tentu baik, tapi sesuatu yang baik sudah seharusnya diberlakukan secara umum

Bukankah Rasulullah sudah menasehati kita, maka sudah seharusnya kita jalankan nasehat beliau dengan niat mencari ridho Allah.

Rekans mungkin banyak yang berpikir bahwa terlalu sepele jika aku mempermasalahkan hal ini, bagaimanapun tata cara makannya, yang penting kita makan steak yang dagingnya daging ayam atau daging sapi, dan bukan daging babi…! Namun aku berpikir, akan lebih baik makanan yang halal dimakan dengan tata krama yang baik.

Selanjutnya, silahkan jika ada ide lain.

I LOVE YOU, MOTHER..

“Surga di bawah telapak kaki ibu”.

Berbahagialah kita semua yang masih memiliki ibu. Dan bagi kita yang telah kehilangan Sang Ibu (passed away), tetap berbahagialah karena sesungguhnya beliau tetap hidup dalam hati kita.

Hari ini saat aku browsing di YouTube, tiba-tiba rindu ingin mendengarkan beberapa
hits milik Celine Dion. Lagu demi lagu kunikmati, sampai akhirnya kutiba di salah satu hits-nya yang sudah lama tidak dengar yaitu “Goodbye (the saddest word)”. Lagu ini ada di album Celine yang bertajuk “A New Day Has Come”. Yang aku ingat, sejak pertama aku mendengar lirik lagu ini, aku menangis. Dan sekarangpun saat kudengar lagi, aku pun masih menangis. Berikut penggalannya:

Mama

you gave life to me

turned a baby into a lady

And mama

All you had to offer

Was a promise of a lifetime of love

Now I know

There is no other love like a mother’s

Love for her child

And I know

A love so complete

Someday must leave

Must say goodbye..

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear

Goodbye’s the last time I will hold you near

Someday youl’ll say that word and I will cry

It’ll break my heart to hear you say goodbye

Mama

you gave love to me

turned to young one into a woman

Mama

All I ever needed

Was a guarantee of you loving me

‘Cause I know

thers is no other love like a mother’s

Love for her child

And it hurt so

That something so strong

Someday will be gone, must say goodbye

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear

Goodbye’s the last time I will hold you near

Someday youl’ll say that word and I will cry

It’ll break my heart to hear you say goodbye

But the love you give will always live

You’ll always be there everytime I fall

You are to me the greatest love of all

You take my weakness and you make me strong

And I will always love you ’till forever comes

Saat Ibu melahirkan kita, seperti yang dikatakan banyak orang “nyawa taruhannya”. Ini berarti, para ibu berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anaknya. Sebaliknya, setelah kita dewasa, sanggupkah kita melakukan hal yang sama untuk beliau? Ingatkah kita seberapa sering kita menyakiti hatinya baik dengan sikap maupun perkataan, namun yang namanya Ibu tak pernah menaruh dendam kepada anaknya. Ingatkah kita, saat kita mulai sukses…tanpa sengaja kita bersikap kepada beliau, seolah-olah beliau hanya orang kuno yang tidak mengerti apa-apa? Dan masih banyak lagi tentunya kesalahan2 & kekhilafan kita terhadapanya. Namun apapun itu, kita sering tak menyadari, tapi yang namanya Ibu biasanya sudah lebih dulu memaafkan meskipun belum kita minta. Meskipun demikian bukan berarti kita terlepas dari kewajiban untuk memohon maaf dari beliau. Dan setelah itu memohon ampun kepada Allah.

Ya Allah, limpahkan segala nikmat & karuniaMu kepada Mama.

Ya Allah, ampunkanlah segala dosa2 Mama.

Ya Allah, andai suatu hari beliau harus kembali menghadapMu, sediakanlah tempat peristirahatan yang paling indah & paling nyaman untuknya.

Ya Allah, jadikanlah Mama salah satu bidadari cantik penghuni surgaMu

Ya Allah, jika suatu hari aku menjadi Ibu, berikanlah aku kemampuan untuk menghasilkan generasi-generasi cerdas yang shaleh/shalehah, serta dicintai oleh anak-anakku.

Amin Ya Rabbal Alamin.

BACK HOME AGAIN

Fiuhh…., akhirnya kembali lagi ke rumah, juga kembali lagi menulis disini. Hi..guys…, how r u? Lama yah gk ketemu.. Ceritanya aku baru balik dari Duri, tempat Ibuk & Papa (mertua). Alhamdulillah tahun ini beliau diberi kesempatan oleh Allah untuk menunaikan ibadah haji.

Seminggu disana, ketemu sama smua sodara2 ipar & ponakan2 yg lucu2. Cukup menyenangkan lah disana, tp sayang slama disana aku kena flu & batuk.. Entah kenapa, mungkin kena syndrome “kangen rumah” kali ya…?? hehehe… Yah…, habis gimana, home sweet home sih…! Walaupun rumah kami hanya rumah yg sederhana (yang penting nyaman untuk kita berdua) dan bukan rumah mewah, tapi ternyata….Ngangenin..euy..!!

Selama kami disana, ibuk & papa jarang di rumah, beliau masih repot dengan persiapan hajinya. Kasian juga…, kami sempat khawatir beliau bakal sakait. Tapi Alhamdulillah, mungkin dengan semangat yang diberikan Allah & niat tulus beliau untuk menunaikan ibadah, telah menjadi penambah kekuatan beliau. Subhanallah, sampai pada harinya beliau diberangkatkan ke tanah suci, beliau sehat walafiat saja. Beliau berangkat hari Jumat, 14 Nov 08 dari Duri menuju Dumai. Trus dari Dumai, langsung naik kapal ke Batam. Dari batam tgl 15 Nov 08 menuju Madinah.

Ada rasa haru saat melepas keberangkatan beliau, haru karena melepas beliau pergi jauh dan selama 40 hari, haru karena beliau akhirnya bisa menunaikan ibadah haji setelah sejak tahun 1995 diniatkan sambil diusahakan juga. Salut dengan perjuangan papa & ibuk…., sedangkan kita…entah kapan. Tapi semoga Allah memudahkan & melancarkan perjalanan ibadah haji beliau sehingga bisa pulang dengan selamat & menjadi Haji yang mabrur, serta bagi kita yang belum kesana, semoga Allah memberi kelapangan kepada kita agar juga berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji sebelum ruh berpisah dari raga. Amin Ya Rabbal Alamin.

2 hari sebelum berangkat, papa & ibuk minta kami-semua anak & menantunya untuk berkumpul, karena sebelum pergi beliau akan meninggalkan bbrp wasiat. Seperti yang beliau katakan waktu itu, beliau bukanlah orang yang banyak harta, jadi tidak banyak meninggalkan wasiat harta. Namun, wasiat yang paling penting yang beliau sangat ingin kami menjaganya adalah AKIDAH. Ini adalah bekal hidup dunia akhirat. Jangan sampai akidah kami tergelincir. “InsyaAllah Pa, kami akan selalu berusaha menjaga amanah & wasiat berharga dari Papa & Ibuk ini”.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.