RSS

KEBAHAGIAAN

21 Okt

Tiap manusia pasti ingin bahagia…, tapi apa resepnya? Seringkali kita tanpa sengaja memakai resep yang keliru, so..jadinya malah sengsara. Tentu gak ada donk yang pengen begitu. Kadang kita berpikir akan bisa bahagia setelah terjadi sesuatu yang besar & hebat. Apa benar begitu caranya? Bagaimana kita akan meraih sesuatu, jika kita tak tahu apa yang sebenarnya ingin kita raih itu. Kupikir…, kebahagian bukanlah kondisi post spectaculer event, melainkan sikap mental yang sebenarnya bisa kita ciptakan setiap saat. Kebahagiaan rasanya tidak berkaitan dengan seberapa banyak yang bisa kita dapatkan, namun lebih kepada:

“bagaimana kita menyukai apa yang kita miliki” (menurut David G. Myers, Ph.D dalam bukunya The Pursuit of Happiness”).

Jika dikaitkan dengan unsur religi, singkatnya mungkin bisa dikatakan bahwa: ciri orang bahagia…ialah sukur nikmat”

Hari minggu yang lalu aku & suami menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Tidak ada niat untuk belanja, hanya sekedar ingin cuci mata aja..refreshing lah… Tapi…’aku juga manusia’…, begitu liat ada tulisan “SALE”, seketika jadi tertarik. Liat-liat…, trus……yah…?!?, gak da yang menarik.., pantas aja di-SALE! Eit…, tapi tunggu dulu…, sepertinya tas ini bagus juga…, elegant, dan…gak mahal-mahal amat.., trus..lipstick yang itu juga menarik kayaknya… Dalam hati sempat terpikirkan, klu seandainya nih barang-barang jadi kubeli, kira kira aku benar-benar butuh gak ya? Hhh..sudahlah, bungkuuusss!!! Pramuniaga disana mencatat kedua item barang yang ingin kubeli… Setelah itu aku pun jalan2 & liat2 lagi yang lain, then…baru lanjut ke kasir. Sesampainya di kasir, tas yang kupesan sudah di mejanya & tinggal catat transakasi, trus…lipstick-nya mana? Ough… paramuniaga belum mengantar barang itu ke kasir rupanya.. Kasirpun menelpon ke counter lipstick tersebut, ntah apa jawaban disebarang sana, namun si kasir cuma bisa bilang “sebentar ya mbak, barangnya sedang diantar kesini”. Ok.., aku tunggu. 3 menit, 5 menit, sampai 10 menit tapi tuh lipstick nggak datang2 juga, ntah apa masalahnya. Duhh…lama amat seh…???!!!! Kulirik jam, ups…jam 18.45..!!! Ya Allah, aku belum sholat magrib. Akhirnya kesabaranku pun habis. Hati udah gak tenang karena masih belum juga menjawab panggilan Allah ini. Sungguh amat sangat kesal sekali melihat pelayanan outlet ini. Katanya berkelas, tapi ngatur pramuniaga aja gak becus!! Gondok berat dech.., pengen banget marah2, tapi…gak mungkin lagi. Waktu ku akan habis jika pakai acara marah marah dulu, bisa2 magribnya lewat ntar. Akhirnya kutinggal aja smuanya dengan sejuta kesal. Batal belanja. Aku dan suamiku buru2 jalan menuju mesjid terdekat. Setelah selesai sholat, aku agak merasa lega, namun jengkel masih tersisa. Dari mesjid kami segera melanjutkan perjalanan ke tempat makan yang enak. Maksudnya sbagai penawar rasa bete. Dalam perjalanan suamiku sebisa mungkin melebur suasana kesal hati ini dengan obrolan2 santainya, sambil tetap menenangkan supaya aku gak marah marah lagi. Lama-lama aku cair juga, sudahlah kupikir…, mungkin ini belum rejeki. Atau…, mungkin barang2 tadi bukan yang terbaik untuk aku miliki, lagipula tas yang lain masih ada di rumah, dan lipstick juga ada. Tadi itu kan niatnya cuma buat nambah koleksi.

“Ve mau makan dimana?” tanya suami. “di ‘Kedai Chocolate’ yuk, disana hot chocolate-nya enak, kayaknya bisa deh buat ngusir bete, suasananya juga santai”, sahutku. Dalam perjalanan aku berpikir…, ah lupain aja kejadian tadi, lebih baik sekarang kubayangkan hangatnya coklat yang…hmmm…yummy…!! Seketika aku merasakan perubahan, smua kesal hilang berganti dengan indahnya coklat…! Sesampainya disana kami memesan menu favorite untuk makanan utama, juga panganan nya– cumi goreng tepung. Saat kami sedang asyik mengobrol sambil menikmati panganan, seorang bocah laki2 menghampiri meja kami untuk menawarkan kerupuk kulit jualannya. ‘Si abang’ (suami) ternayata berminat, dia beli 3 bungkus harganya 10.000. “terima kasih, bang” kata si bocah saat menerima uang hasil jualannya. Baru selangkah dia berjalan, aku menahannya…”dek..dek…, tunggu dulu” pintaku. “ini buat kamu” sambil kuberikan 2 potong cumi ke tangannya. Sejenak dia bingung dan menatapku, aku cuma tersenyum, dan kemudian diapun berlalu setelah mengatakan…”terimakasih ya, mbak”.Suamiku menatapku sambil tersenyum…, sebelum dia berucap aku mendahuluinya…”kata orang bang, salah satu cara untuk mengusir rasa bete adalah dengan berbuat baik pada orang lain.” Spontan, senyum terindah suami hanya untukku… (hehehhe…).

Apa hubungannya antara paragraf pertama dengan ceritaku setelahnya?

Yah…, tentu masih tentang kebahagiaan. Kembali ke teori diatas, kebahagiaan lebih kepada menyukai apa yang kita miliki. Aku berhasil mempertahankan rasa bahagia dengan berusaha mengusir kekesalan, mensukuri apa yang sudah ada di rumah, dan kalau gak jadi beli pun gak bakalan bikin aku di-opname di Rumah Sakit. Kulupakan semua kejengkelan, kubayangkan hal-hal indah yang menyenangkan, seperti a cup of hot chocolate. Aku senang melihat si bocah menyukai pemberianku yang mungkin gak seberapa. Dengan semua upaya pikiran positif ini aku berhasil meredam kemarahan. Mengganti kesal dengan bahagia. Coba bayangkan jika aku sampai kesal tak ada habisnya, hanya karena barang2 yang tidak jadi dibeli?! Suasana refreshing kami mungkin gak kan fresh lagi, tapi malah menyebalkan. Suami pun akan terkena imbasnya, dan dia pun jadi gak nyaman. Apalagi kalau aku sampai menuruti hawa nafsu marah pada orang toko, bisa2 sholat magrib ku lewat deh.. Gak ada untungnya…!

Ini hanya sepenggal kisah sederhana dariku. Mungkin rekans punya cerita yg lebih dalam & menarik lagi… Siapa tahu…. Namun yang penting adalah, sesederhana apapun itu yang penting bagaimana kita menyikapi & memaknainya. So, kebahagiaan itu gak jauh-jauh koq nyarinya, karena sebenarnya dia ada dalam hati kita, tinggal bagaimana meng-exploitasinya.

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 21 Oktober 2008 in Uncategorized

 

3 responses to “KEBAHAGIAAN

  1. vadelin

    21 Oktober 2008 at 2:53 pm

    mantap, paaasssss gulanya
    selamat menikmati kebahagian2 yang sekarang dan setelah itu.

    “Kebahagiaan, dia ada semenjak kamu ada,
    dia dilahirkan bersamaan dengan kelahiranmu,
    dia tidak akan pergi, bila kamu tidak meninggalkannya”.

    Ikut suka atas bahagia kalian (veli & armen)
    Kasih sayang Allah, SWT senantiasa menyertai, amin

    Salam gembira
    VAdelin

     
  2. velina

    21 Oktober 2008 at 3:20 pm

    Amin…
    Terima kasih atas doanya…

     
  3. vadelin

    30 Oktober 2008 at 8:36 am

    Hi vel, kok blon ada tulisan baru? jari-jari gue dah gatel mo ngomen neh. Kalo gitu gw tambahin komen buat yang ini aje, lobeh ya? lobeh nga lobeh gw anggap boleh aja lah, ini masih seputar kebahagiaan.

    Baru saja saya ingat salah satu materi esq menerangkan bahwa ada 3 jenis kebahagian. “Three happiness”
    1. Physical happiness
    Kebahagiaan ini kita peroleh dari segi pisik, kita bahagia ketika kita menerima/mendapatkan sesuatu bersifat kebendaan, misal: punya mobil baru, rumah baru, baju baru, mungkin istri baru (ma’af bukan gerakan menghalalkan poligami hehehe). Kebahagiaan ini sering tergantung kepada hal yang bersumber dari orang lain untuk kita, sifatnya terbatas.

    2. Emotional happiness
    Kebahagiaan ini kita peroleh dari segi emosional, bahagia ketika dipuji, bahagia ketika disanjung, diperhatikan, disayang, dapat tepuk tangan dan lain sebagainya. Kebahagiaan ini juga tergantung kepada orang lain, dirasakan hanya ketika kita menerima dari orang lain, sifatnya terbatas dan sementara.

    3. Spiritual happiness
    Kebahagiaan nurani, jiwa kita terasa bahagia ketika kita merasa dekat kepada Allah, kita dapat mencucurkan air mata dalam shalat/do’a, kita dapat bahagia ketika kita dapat berbuat suatu yang baik kepada orang lain. Kita bahagia melihat orang yang kita sayang bahagia. Sesungguhnya kebahagiaan seperti ini tidak terbatas, tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi kebagiaan ini dapat kita peroleh ketika kita memberi bukan ketika kita menerima.

    Contoh: ketika seorang ayah membelikan boneka untuk putri kecilnya, si kecil akan mendapatkan physical happiness, ini tidak akan lama dirasakan oleh si kecil, karena tuntutan kebendaan bersifat sementara. Namun bagi si ayah dia akan memperoleh spiritual happiness, yaitu rasa bahagia yang panjang bahkan tidak akan pernah terlupakan betapa bahagianya si ayah melihat ketawa riang anaknya sewaktu menerima boneka impiannya. Bahkan jangankan hanya satu boneka, pabrik bonekapun akan dibelikan demi tertawa riang si kecil. Bahagia ini tidak akan hilang walaunpun kini si kecil sudah dewasa, sering diingat-ingat, dibicarakan dalam mengenang indahnya masa lalu, spiritual happiness

    Spiritual happiness dapat dirasakan kapanpun, dimanapun, kepada siapapun kita memberikan kebaikan dengan hati nurani kita, kita merasa senang karenanya, itulah yang disebut spiritual happiness.

    Nah, begitu juga sebagian dari sekian banyak kebahagiaan yang dirasakan oleh rekan kita veli, dia sangat bahagia ketika berbagi sedikit makanan dengan seorang anak laki-laki kecil, dia tidak kenal itu anak siapa, dia tidak tahu tinggalnya dimana, yang dia rasakan adalah vely bahagia ketika dapat memberi dengan hatinya, spiritual happines telah menjalar kedalam jiwa, kebahagiaan ini tidak mudah hilang karena kebahagiaan itu menancap karena vely telah memfitrahkan core value (nilai inti) hati nuraninya.

    Kesimpulan: ingin bahagia? mari sama-sama kita berlomba sebanyak-banyak memberi dengan hati kepada orang lain, tidak lagi mengedepankan pujian dan sanjungan, karena kebahagiaan atas puji dan sanjungan hanya sementara.

    Banyak Ma’af & salam
    VAdelin

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: