RSS

KARENA KITA BEGITU BERHARGA

20 Mei

Pernahkah atau adakah diantara kita yang pernah berpikir tentang: apa sih hebatnya Kartini, sampai tanggal lahirnya diperingati sebagai hari besar nasional? Sebenarnya apa yang sudah beliau lakukan pada waktu itu? Bukankah hanya menulis buku “Habis gelap terbitlah terang”? Beliau tidak bertarung secara fisik & angkat senjata melawan para penjajah. Kenapa bukan tanggal lahirnya Cut Nyak Dien saja yang diperingati sebagai hari besar nasional? Dan masih banyak lagi pahlawan pahlawan wanita dari daerah lain yang lebih hebat perjuangannya untuk bangsa & negara ini.

 Menggelikan. Saat seseorang bercerita kepadaku tentang pemikiran atau ide yang seperti ini, aku tertawa geli. Aku tidak tau harus menilai bagaimana jika ada yang berpikir seperti ini, apakah ia kritis, lucu, ataupun skeptis?? Tapi yang jelas bagiku, lebih baik kita berpikir dari sudut pandang yang positif saja. Bentuk perjuangan itu tidak hanya dengan angkat senjata, namun goresan tinta pun kadang bisa lebih tajam dari goresan bambu runcing. Mungkin itulah yang dilakukan oleh Kartini pada waktu itu. Tulisan & buah pikirannya telah mampu mendobrak peradaban & kultur sosial yang kolot. Persembahan terbesarnya untuk kaum perempuan di zaman itu dan generasi sekarang telah banyak membawa perubahan besar pada bangsa. Perempuan tidak lagi hanya bergelut seputar sumur-dapur-dan kasur saja. Namun perempuan pun diberi kesempatan dan kebebasan untuk menuntut ilmu, agar kelak dalam menjalankan perannya sebagi istri dan ibu dari anak2nya, ia bisa menghasilkan generasi penerus yang cerdas, berakhlak, dan bermoral. Itulah cita cita Kartini. Karena, bukankah rumah merupakan Madrasah pertama bagi anak-anak kita?

Emansipasi berasal dari kata emancipation yang berarti kebebasan, kemerdekaan. Jaman sekarang implementasi dari emansipasi diterapkan dalam berbagai bentuk oleh para perempuan masa kini. Sebenarnya pemberian kebebasan pada kaum perempuan untuk menjadi insan yang berilmu, adalah bentuk pengakuan bahwa perempuan itu begitu berharga dan punya peran penting. Hal ini bukan hanya baru dimulai setelah Kartini menulis buku, namun sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW. Islam adalah agama yang sangat menghargai, melindungi, dan selalu ingin mengangkat derajat kaum perempuan. Kebebasan untuk kaum perempuan itu ada namun batasannya pun juga ada. Kodrat tetaplah kodrat, perempuan tetaplah perempuan. Selamanya tidak akan sama dengan laki-laki. Secara logika, kalau dari segi fisik saja kita berbeda dengan kaum adam, bagaimana mungkin kita bisa menyuarakan bahwa: laki-laki & perempuan harus ada persamaan hak? Karena dari perbedaan fisik ini akan menimbulkan perbedaan stamina, kemampuan fisik, intelegensi, daya pikir, emosi, dan sebagainya.

 Zaman sekarang, banyak orang berpikir bahwa ketika kita membicarakan perbedaan2 antara kaum lelaki dan perempuan, berarti kita menghancurkan hak-hak perempuan, dan mendiskreditkan perempuan. Padahal perbedaan antara kaum lelaki & perempuan adalah konsekuensi dari tabiat dan fitrah yang telah Allah ciptakan kepada keduanya, disamping berbagai kekhususan yang Allah berikan pada kaum perempuan, baik berupa bentuk fisik, serta tugas-tugas rumah tangga dan pendidikan anak yang dibebankan kepadanya dalam ruang lingkup keluarga. Semua itu bukanlah penghancur hak-hak perempuan, bukan pula pelecehan terhadap peran dan eksistensi perempuan. Sebenarnya, semua tugas itu adalah tugas maha penting dan mulia yang tidak mampu dilakukan kaum lelaki yang sehebat apapun. Kita (perempuan) dan kaum lelaki sama-sama memiliki hak dan kewajiban sendiri-sendiri.

Kutipan dari salah satu Firman Allah:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNYA. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu……” (An-Nisaa’ :32)

Sebelum menikah aku bekerja. Setelah menikah, resign dari perusahaan karena harus ikut suami pindah ke luar kota. Awalnya semua berjalan biasa saja, tak ada rasa canggung, justru aku merasa seperti seorang karyawan yang sedang cuti besar. Relax sekali. Namun waktu yang terus berjalan, membuat aku akhirnya jenuh juga. Tiba-tiba muncul keinginan yang begitu besar untuk kembali jadi wanita karier, dimana salah satu yang menjadi alasan dari keinginan ini adalah munculnya rasa minder karena aku hanya ibu rumah tangga dan bukan mereka (wanita karier). Rajin mencari bursa kerja baik di koran dan kadang internet. Tapi perasaan ini belum aku bicarakan dengan suami. Pada dasarnya suami bukanlah typical orang yang suka mengekang. Tidak ada larangan darinya jika aku ingin bekerja. Namun entah kenapa, jauh di lubuk hatiku selain ada rasa yang menggebu-gebu ingin kerja di luar rumah, ada juga rasa sayang untuk meninggalkan rumah & aktivitas rutin rumah tangga yang slama ini aku jalani; memasak, merapikan rumah, mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut suami pulang ke rumah, kesenangan bisa bebas ber-internet dari rumah, menulis seperti sekarang ini, dan lain sebagainya. Dalam kebingungan ini aku pun menangis, dan akhirnya membicarakan juga hal ini dengan suami. Suami tidak marah, justru membiarkan aku untuk memilih (ingin tetap kerja di luar rumah atau tetap seperti sekarang), namun beliau hanya memberikan pandangan, bahwa setiap keputusan & langkah yang diambil itu ada konsekuensinya. Dan mengingatkan aku agar bertanya kembali pada diri sendiri tentang apa alasan sesungguhnya aku ingin bekerja. Kami belum kekurangan uang (Alhamdulillah), walau aku hanya di rumah, bukan berarti aku ketinggalan akan perkembangan dunia luar. Masih ada televisi, buku-buku, suami juga memfasilitasi aku dengan internet. Tinggal bagaimana aku memanfaatkannya. Dengan segala kebijaksanaannya dia menghiburku dari rasa minder sebagai ibu rumah tangga. Salah satu kalimat sederhana darinya: “tahukah veli, betapa berartinya segelas teh hangat yang menyambut abang setiap pulang dari kantor..?!”. Aku tak tahu harus bilang apa. Aku tersanjung. Ternyata walau aku bukan wanita karier, aku masih berharga. Dalam hati aku berkata pada Tuhan, “Ya Allah jika memang menurutmu tempat yang terbaik & lebih mulia bagiku memang di rumah ini, maka jagalah aku agar tetap disini.”

Tidak bebaskah aku? Tidak emansipatif kah aku? Terserah orang mau menilai bagaimana, yang penting aku menghargai & mensyukuri apa yang aku miliki sekarang, aku tidak minder lagi, dan aku tahu…, dimanapun dan jadi apapun aku, aku tetap bisa berbuat banyak jika mau. Selama dasar dari setiap yang kita lakukan adalah untuk mencari ridho-NYA, maka InsyaAllah jalanpun akan terbuka. Amin.

Waktu telah mengantar zaman untuk terus berubah, begitu juga pola pikir manusia. Adanya kedua jenis gender ini, sebenarnya merupakan bentuk ke-maha adilan Allah. Dalam rumah tangga yang di dalamnya kita berpasangan, prinsipnya adalah kerjasama, bukan unjuk kebolehan. Kita punya peran masing-masing yang berbeda, namun sama pentingnya. Sungguh sulit dimengerti orang-orang yang menyerukan persamaan mutlak antara kedua jenis gender ini. Bukankah semata-mata ini seruan yang tidak ada dasar hukumnya, baik dari dasar fitrah maupun realitas yang dialami umat manusia?

Wahai kaum-ku tercinta, silahkan memilih ingin jadi apa & bagaimana. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak mampu melakukan semua hal. Oleh karena itulah Allah dengan segala kebijaksanaanNYA telah menggariskan hak-hak & kewajiban kita sesuai kodrat. Berusaha memenuhi hak kewajiban tersebut dengan sungguh-sungguh saja, belum tentu kita berhasil, apalagi kalau melakukan dengan sembarangan. Emansipasi memang kebebasan, namun ibaratnya kereta api, walau ia bebas mau pergi kemana saja, tetap harus berjalan diatas rel. Sedikit saja tergelincir, kecelakaan yang berakibat maut akan terjadi. Semua hancur! Islam tidak pernah melarang kita untuk bekerja. Namun bekerja yang bagaimana? Itulah yang harus sama-sama kita gali jawabannya. Bukankah pedoman hidup telah Allah berikan..?!

Jangan takut para lelaki tidak menghargai kita. Mulailah penghargaan itu kita berikan pada diri sendiri dulu. Dengan kita menghargai eksistensi kita, maka dengan sengaja atau tidak akan banyak hal-hal berarti yang bisa kita lakukan. Mereka (lelaki) dengan terlihat menghargai atau tidak, sesungguhnya jauh di lubuk hati sangat menghargai & mengagumi kita (perempuan), karena bagaimanapun mereka juga lahir dari rahim seorang perempuan. Dan sebaliknya sebagai suami, kita pun wajib untuk menghormati & patuh padanya selama tidak bertentangan dengan aturan Allah.

Akhir kata, kita tak bisa memilih bagaimana dan kapan kita akan mati. Kita hanya bisa memutuskan bagaimana kita akan hidup.

 Rujukan:

  1. Al Qur’an

  2. Majalah NIKAH vol.6

Iklan
 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Mei 2009 in Uncategorized

 

3 responses to “KARENA KITA BEGITU BERHARGA

  1. vadelin

    22 Mei 2009 at 4:38 pm

    Waw, hebat… sungguh luar biasa, suatu keberhasilan melakukan perjalan panjang ke dalam dirinya sendiri, ini adalah suatu keberhasilan individual. Tidak seorang pun yang mampu menunjukkan arah jalan mu, ketika kamu hendak menjelajahi setiap kisi, setiap bilik, setiap ruang, setiap relung yang ada di hati mu. Itu kamu sesungguhnya, cahaya yang ada dalam hati!!!! Selamat Vel… salam k’del

     
  2. vadelin

    22 Mei 2009 at 4:42 pm

    Sesuai permintaan, hari ini tulisan di atas sudah di print, Insya di hari yang sama akan sampai ke tangan ma, pa n ci id

     
  3. velina

    29 Mei 2009 at 12:43 pm

    makasi banyak ya kak…., untuk semuanya…

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: