RSS

Shalat: Tujuan Hidup Yang Terlupakan

Lagi-lagi semedi di depan laptop ini menghasilkan, Alhamdulillah. Terjemahan lagiiiii…!!! masih belum pada bosan kan ya? Kali ini yang diterjemhkan adalah tulisan-nya Sister Yasmin Mogahed yang judul aslinya: Salah: Life’s Forgotten Purpose. Dan tak lupa terima kasih banyak-banyak buat wanda (www.irfanwanda.blogspot.com)  yang masih setia bantuin aku yang masih lugu ini… (halah). Semoga bermanfaat yah.., teman-teman.

Shalat: Tujuan Hidup yang Terlupakan

By: Yasmin Mogahed (www.yasminmogahed.com)

Manusia telah banyak melakukan perjalanan dari waktu ke waktu. Tapi ada satu perjalanan yang tak seorangpun pernah melakukannya.

Tidak seorang pun —- kecuali satu.

Dengan kendaraan yang tidak pernah dikendarai oleh manusia, melalui jalur yang belum pernah dilalui  jiwa manapun. Menuju tempat yang belum pernah disentuh makhluk apapun. Sebuah perjalanan seorang manusia untuk bertemu dengan Ilahi. Itulah perjalanan Muhammad SAW, Rasulullah, ke langit tertinggi. Itu adalah al Israa wal Miraaj (perjalanan yang agung).

Dalam perjalanan tersebut Allah mengajak kekasihnya Rasulullah SAW ke langit ketujuh – tempat yang bahkan malaikat Jibril pun belum pernah memasukinya. Dalam misi Nabi di dunia ini, tiap perintah, tiap firman diturunkan melalui malaikat Jibril. Tetapi, ada satu perintah yang jadi pengecualian. Ada satu perintah yang sangat penting, yang bukannya dikirimkan melalui Jibril, tapi Allah yang membawa Rasullah SAW naik untuk menemuiNya.

Perintah itu adalah shalat. Ketika Rasul pertama kali diberi perintah shalat adalah untuk 50 kali dalam sehari. Setelah meminta kemudahan pada Allah, perintah tersebut akhirnya dikurangi menjadi 5 kali sehari, dengan pahala 50.

Merefleksikan kejadian diatas, para ulama menjelaskan bahwa proses dari 50 menjadi 5 ini adalah sesuatu yang disengaja, bertujuan untuk mengajarkan kita tentang keutamaan shalat dalam hidup kita. Bayangkan jika seandainya shalat itu 50 kali sehari. Dapatkah kita mengerjakan hal yang lain selain shalat? Tidak. Itulah intinya. Apa ada cara yang lebih pantas untuk menggambarkan tujuan hidup kita yg sebenarnya? Seolah mengatakan bahwa shalat inilah hidup kita yang sesungguhnya; selainnya itu…hanyalah selingan.

Namun, hidup kita seolah-olah kebalikannya. Shalat seperti selingan dalam hari-hari kita hanya ketika kita sempat. Kehidupan kita tidak menuruti shalat. Tapi shalat yang menuruti kehidupan kita. Jika kita sedang di dalam kelas, shalat baru dipikirkan belakangan. Jika kita berada di Mall, mengejar diskon lebih penting. Sungguh suatu yang keliru ketika mengesampingkan tujuan hidup kita hanya untuk menonton pertandingan basket.

Dan itupun kalau masih shalat. Ada orang yang tidak hanya mengesampingkan tujuan hidup mereka, malahan telah meninggalkannya sama sekali. Satu hal yang sering kita lupakan tentang meninggalkan shalat: tidak ada ulama yang berpendapat bahwa melakukan zina membuat kita menjadi tidak beriman. Tidak ada ulama berpendapat bahwa mencuri, mabuk, atau mengkonsumsi obat-obat terlarang membuat kita disebut tidak beriman. Bahkan tidak ada ulama yang meng-klaim bahwa melakukan pembunuhan membuat kita menjadi non-Muslim. Tetapi, sebagian ulama telah mengatakan bahwa barang siapa meninggalkan shalat, berarti ia bukan seorang Muslim lagi. Hal ini didasarkan pada hadist yang berbunyi: “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka siapa yang meninggalkannya, ia telah menjadi kafir (tidak beriman)”. [Ahmad]

Bayangkan betapa seriusnya tindakan tersebut, sehingga Rasullah SAW sampai berkata demikian. Mari kita renungkansejenak kesalahan apa yang telah dilakukan setan. Ia tidak menolak untuk beriman kepada Allah. Ia menolak untuk melakukan satu sujud. Hanya satu kali sujud. Bayangkan berapa kali sujud yang telah kita tinggalkan.

Demikian seriusnya pengabaian ini. Namun demikian enteng kita anggap masalah shalat. Shalat adalah hal pertama yang akan ditanyakan pada Hari Pembalasan, namun hal terakhir yang kita pikirkan. Rasullah SAW berkata: “Hal pertama yang akan dinilai diantara semua perbuatan manusia pada Hari Berbangkit nanti adalah Shalat. Jika sholatnya baik, maka sukses dan beruntunglah dia, tetapi apabila shalatnya kurang baik maka gagal dan celakalah dia”. [Tarmidzi]

Pada Hari itu, penduduk surga akan bertanya kepada penghuni neraka, apa penyebab mereka masuk ke dalamnya. Dan Al Qur’an menceritakan apa jawaban pertama mereka: “Apa yang membuat kalian masuk Neraka? Mereka pun menjawab: “Kami tidak shalat”. (Qur’an, 74: 42-43)

Berapa banyak diantara kita yang kelak akan berkata demikian “Kami tidak shalat, atau kami tidak shalat tepat waktu, atau kami tidak menjadikan shalat sebagai prioritas dalam hidup kami”. Mengapa ketika kita sedang di kelas atau di kantor atau tertidur pulas waktu subuh, jika kita perlu ke kamar kecil, kita punya waktu untuk itu? Bahkan mempertanyakannya kedengaran konyol. Bukankah kita tidak punya pilihan? Dan bahkan ketika kita sedang dalam ujian yang sangat penting, jika kita harus pergi ke kamar kecil, maka kita akan pergi. Kenapa? Karena akan terjadi hal yang memalukan jika tidak dilakukan, sehingga tidak ada pilihan lain.

Ada banyak orang yang bilang mereka tidak punya waktu untuk shalat di tempat kerja, di sekolah, atau ketika mereka sedang di luar. Tetapi adakah yang bilang bahwa mereka pakai popok karena tidak punya waktu untuk ke kamar mandi saat di luar, ke kantor, atau ke sekolah? Berapa banyak diantara kita yang tidak mau bangun saat fajar ketika kita perlu ke kamar mandi dan memilih untuk mengompoli kasur kita? Nyatanya kita pasti bangun dari tempat tidur, atau meninggalkan kelas, atau berhenti sejenak saat bekerja, untuk ke kamar mandi tetapi tidak untuk shalat.

Kedengarannya lucu, tapi begitulah kita menempatkan kebutuhan jasmani (tubuh) diatas kebutuhan rohani (jiwa) kita. Kita beri makan tubuh ini, karena jika tidak kita bisa mati. Namun, banyak yang membiarkan jiwa kita kelaparan, lupa bahwa jika tidak shalat jiwa kita mati. Dan ironisnya, tubuh yang kita prioritaskan ini hanya hidup sementara, sedangkan jiwa yang kita abaikan akan hidup selamanya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Januari 2013 in Uncategorized

 

Usia Kepala Tiga

Ini adalah hasil semedi di depan laptop. Yap, tulisan ini merupakan terjemahan dari tulisan ustadz Suhaib Webb yang judulnya “30 Something“.

Dan Alhamdulillah seorang teman cantik yang baik hati  — Wanda Regina, bersedia membantu mengoreksi terjemahan saya. Dan…..inilah hasil kerjasama kami (semoga bermanfaat bagi semua pembaca):

Usia Kepala Tiga

By: Suhaib Webb (www.suhaibwebb.com)

Rasulullah (SAW) berkata: “Perintahkan anak kalian sholat saat mereka berumur 7 tahun, dan pukul mereka (untuk tujuan mendidik, bukan menyakiti – lihat catatan kaki) jika meninggalkan sholat ketika sudah berumur 10 tahun”.

Baru-baru ini hadis ini dibahas oleh salah satu profesor kami dalam kuliah perbandingan hukum. Beliau menulis bahwa perintah dalam hadis ini sebenarnya bukan untuk anak-anak, karena mereka bukan mukalaf (telah memiliki kewajiban untuk beribadah), melainkan ditujukan untuk para orang tua / wali si anak. Saya pun merenungkan hadis ini, dan bermaksud menuangkan apa yang saya pikirkan:

Saat memasuki usia 30-an kita merasa betapa cepatnya usia 20-an berlalu . Anak-anak kita pun telah tumbuh semakin besar. Angka 30-an sungguh periode yang aneh, waktu yang mengingatkan saya kembali pada saat-saat lulus sekolah dulu. Apa yang akan saya lakukan selanjutnya? Apa rencana-rencana saya? Namun, kalau dulu saya dihantui dengan apa langkah akademik saya selanjutnya, kini tanggung jawab keuangan  yang mulai menghantui saya. Kenaikan biaya hidup, asuransi keluarga, biaya pendidikan Islami dan universitas yang terbaik, semuanya senantiasa terngiang-ngiang dalam pikiran saya. Belum lagi setan besar yang bernama kredit pemilikan rumah. Kita terjebak, pekerjaan begitu melelahkan, dan kita pun mulai tenggelam dalam lautan kehidupan. Dan kemudian kita harus menghadapi kenyataan bahwa dalam beberapa tahun lagi kita memasuki usia 50-an dan mulai masuk masa pensiun untuk kemudian akhirnya bertemu dengan Allah SWT.

D usia 30-an jiwa kita merasa paling terbebani. Kita sangat sibuk, bahkan dalam berbagai hal sering merasa tidak dihargai. Usia 30-an itu ibarat si anak tengah, belum cukup dewasa untuk menangani berbagai masalah, tapi juga bukan anak kecil yang bisa lepas dari tanggung jawab. Saya pun secara pribadi mengakui bahwa menerima nasehat dan tetap berendah hati itu tidaklah mudah. “Saya sudah 30-an, bukan 20-an lagi!” Lihatlah, sehelai uban di jenggot saya membuat saya patut dihargai.

Hadiah untuk para orang tua dari hadis di atas

Allah SWT telah menetapkan dzikir sebagai salah satu pertahananan terpenting bagi orang-orang beriman. Akan tetapi, di usia 20-an dan 30-an itu rasanya sulit untuk menerima peringatan dari sesama. Di usia 20 kita merasa seperti di puncak dunia, dan di usia 30 kita merasa sudah memahami dunia ini. Karena itulah Allah SWT dengan segala Kebijaksanaan dan Kasih-sayangNya memerintahkan kita untuk menyuruh anak-anak kita sholat. Ini penting, karena perintah tersebut tidak ditujukan untuk anak-anak, tetapi untuk ayah & ibunya, atau wali-nya. Karena itu, ketika menyuruh anak-anak sholat, kita mungkin jadi merenungkan hal-hal berikut ini:

  1. Hei, saya sendiri tidak sholat
  2. Sholat saya belum bagus
  3. Hubungan saya dengan Allah masih kurang

Ahhh….betapa penyayangnya Dia! Seolah suntikan tapi tidak terasa sakit. Cinta Allah begitu besar, kuat, dan mendalam sehingga Dia paham pada usia ini kita sulit untuk mendengarkan masukan dari orang lain. Karena itu, sebuah pesan indah pun dihembuskan untuk membuat “pasien menjadi dokter”. Pikirkan dan tanyakan pada diri kita ketika menasehati anak-anak kita untuk sholat. “Untuk siapa perintah ini sebenarnya?” Lalu ingatlah bahwa “Kenapa kita menyuruh sesuatu yang kita sendiri tidak melakukannya?”. Perintah ini adalah hadiah untuk anda, akhi & ukhti (saudara & saudari)! Allah begitu menjaga dan memperhatikan kita, sehingga Dia mengingatkan kita lewat suruhanNya untuk mengingatkan anak-anak. Yang disuruh mengingatkan adalah yang sesungguhnya sedang diingatkan. Sungguh, begitu mempesona Kebijaksanaan, Kasih sayang dan Cinta Allah SWT.

 

 

Untuk saudara-saudari sekalian

Ini adalah sebuah pengingat bagi siapapun yang sedang berjuang di samudera usia 30-an untuk kembali kepada Allah SWT. Sebenarnya, Allah memberkahi anak-anak sebagai cahaya hidup kita. Jika kita mengingatkan mereka, kita sebenarnya sedang mengingatkan diri sendiri, dan inshaAllah (jika Allah mengizinkan) saat kita tua mereka yang akan mengingatkan kita.

Beberapa ide untuk mengikat hati anak-anak kita pada Keagungan Allah melalui sholat:

  1. Para Ayah & Ibu, ajaklah anak-anak anda ke mesjid. Buatlah semacam perlombaan untuk mereka:

–       Senin untuk Fatimah

–       Selasa untuk Ahmad

Kemudian, di akhir pekan berikan hadiah kepada siapa yang sholatnya dan sikapnya paling baik selama di dalam mesjid.

  1. Seorang Syekh pernah bercerita pada saya bahwa dulu setiap kali ayahnya membawanya ke mesjid, ia mendapatkan hadiah permen setelah solat jika bersikap baik. Sejak itulah ia menyimpan kenangan yang indah & manis tentang mesjid, kata Syekh tersebut, dan giginya tetap bagus & indah. Sehingga saat tumbuh besar ia selalu dekat dengan mesjid dan kenangan indah itu.

Semoga Allah memberi kita kebijaksanaan dan kesabaran untuk menjadi orang tua yang mulia. Semoga Allah melindungi anak-anak kita dan menjadikan mereka kelak seperti Umar atau Aisyah.

Catatan kaki: Perlu diperhatikan bahwa memukul dalam hadis ini, sesuai hukum Islam, artinya hanya pukulan ringan di pantat. Pukulan yang menimbulkan bekas atau memar dilarang dalam Islam. Karena itu, hanya tepukan hingga pukulan ringan yang dibolehkan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Januari 2013 in Uncategorized

 

KAU lah segalanya.

Ada kalanya sepi itu datang dan terasa menusuk. Ada kalanya aku merasa tidak seorangpun dapat diandalkan. Sungguh rasa yang tidak menyenangkan…saat apa dan siapa yang aku harapkan untuk menghibur dan menyenangkan hati justru mengecewakan. Kenapa? Karena aku telah berharap pada yang salah. Karena aku telah telah berharap pada yang tidak sempurna. Sedih…, namun di sisi lain terbersit rasa lega, karena ini pertanda Allah sedang mengajakku untuk jadi lebih mendekatiNYA, untuk tidak lupa bahwa DIA lah tempat berharap & bergantung yang Maha Sempurna. Iyya kana’budu wa iyya kanastha’in.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Desember 2012 in Uncategorized

 

Handphone Jatuh

Kemaren hp umi dimainin Raisha sampai jatuh2. Dan setiap kali jatuh…tutup belakang & batery-nya langsung copot. Sempat deg-degan juga sih, tiap kali pasang tutup & batery nya langsung buru2 ngidupin sambil mikir…”masih bisa idup gak ya?”. Dan alhamdulillah…masih bisa idup. Tapi…, bagaimana nasib si hp ini kedepannya nanti, mengingat tragedi jatuh sudah terjadi berkali-kali. Yaaahh…sudah lah. Umi pasrah. Dalam hati pun umi berbisik:
“Ya Allah, jika ini memang jalan bagi hamba agar bisa dibeliin Abi android atau tablet baru…., hamba ikhlas ya Allah.”
  #$&**#$&%

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Desember 2012 in Uncategorized

 

Ngupil

Ceritanya, umi lg mergokin raziq ngupil. Parahnya, telunjuk kanannya yg msk ke lubang hidung.
U: lho…ziq? Itu kok jari kanan yg dimasukin ke hidung?

R: (keluarin jari kanan)…jadi, pake ini aja, mi? (masukin telunjuk kiri)

U: udah…, raziq ga usah ngupil….., (maksudnya mau lanjutin kalimat:nanti umi bersihin pake cutton buds aja)
….eh…keburu dipotong raziq:

R: trus, pake ini mi? (Sambil nunjukin jempol kakinya)

U: @#%&$#* (GUBRAKKK…..!!!)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2012 in Uncategorized

 

Jangan salahkan Jilbab!

Assalamualaikum…
Udah pada baca kan ya postingan sebelumnya?! Yup…yg copas dr ust. Yusuf Mansur. Alhamdulillah, telah jadi masukan juga buat aku pribadi supaya jadi lbh baik lagi dalam beramal.
Jadi, seruan memakai jilbab itu bukan trend lho ya…, itu perintah Allah & Rasul-Nya. Jilbab juga bukan sekedar kain penutup uban…(buat ibu2 paruh baya nih biasanya), jilbab juga bukan sekedar gaya2an karena kebetulan kita gak pe-de dengan rambut yang gak OK, atau bahkan buat nutupin panu di leher (hehehe…).

Memakai jilbab itu adalah salah satu bentuk ketaatan bahkan rasa cinta kita pada Allah. “Sayang ah….rambut bagus begini harus ditutupin jilbab”…, hayyoo….lebih sayang sama rambut atau sama Allah??. “Iiihhh…..jilbab kampungan ah…”…, yeee….elu kali yg kampungan, masa gak tau trend fashion jilbab sekarang udah berkembang dan tetap syar’i. “Ntar aja deh pake jilbab, masih pengen gaya2an & tampil sexy dulu”….hmmm….ntar nya itu sampai kapan yah? Kalau ntar keburu dipanggil Allah pas lagi pamerin aurat ke khalayak umum gimana? Naudzubillah min zalik! Gak mau kan???? Makanya…, buruan pake jilbab, buruan tunjukin rasa cinta kita sama Allah. Biar Allah juga makin sayaaang…sama kita.

Trus, buat yang belom mantap hatinya berjilbab atau sekelompok orang yang (maaf) sentimen dgn Islam dan muslimah yg berjilbab khususnya, tolong donk….jangan menghakimi jilbab tatkala si pemakainya berbuat kesalahan. Misalnya: “percuma pake jilbab, tapi ngrumpi dimana2” …yah, masih mending donk…dari pada suka rumpi trus gak berjilbab pula. Hehe…, atau “jilbab apaan tuh, hutang gak dibayar2″…secara logika, apa sih hubungan jilbab sama hutang? Dan yang lebih aneh lagi…”mentang2 berjilbab…, sok suci!” …capeee dee…Fiiiuuuhh….. dan masih banyak bentuk2 celaan lainnya.
Inget ya, jilbab itu pakaian. Penutup aurat. Sedangkan… sifat-sifat negatif itu adalah perilaku manusianya. Jadi yang salah itu adalah pribadi manusianya itu. Bukan jilbabnya. Dan jangan pula beranggapan orang berjilbab itu gak boleh berbuat salah…, yg namanya manusia adalah tempatnya salah & khilaf. Kita bukan malaikat. Jadi, hal2 yg seperti itu jangan dijadiin alasan buat menunda pakai jilbab yah.

Seperti halnya sholat, jilbab itu juga perintah Allah. Namun pelaksanaannya tetap saja terserah pribadi kita masing2.. Kalau mau taat…itu tandanya cinta Allah. Kalau belum mau…, itu berarti masih lebih cinta dunia dari pada Allah.

Yuk….mari sama2 kita tingkatkan amalan kita, untuk meraih cinta Allah.
Wassalamualaikum…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 13 November 2012 in Uncategorized

 

( HUKUM ) SYUBHAT BANTAHAN SEPUTAR BERJILBAB

copas from Yusuf Mansur Network on facebook;

( HUKUM ) SYUBHAT BANTAHAN SEPUTAR BERJILBAB – Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang ‘ngetrend’ dan biasa kita dengar adalah ”Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka ‘ngerumpi’ berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya. Syubhat lainnya lagi adalah ”Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti,, ??

Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan orang kafir lainnya liatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana.

Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan “tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak(zahir) dalam diri orang itu.

Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya.Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu “ala llah’ artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.

Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59) tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta’ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya.

Lengkapnya adalah sebagai berikut: “Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian “(HR. Muslim 2564/33).

Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).

Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya.

Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya.

Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat.

Aduhai,..betapa lalainya kita ini,..banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 November 2012 in Uncategorized